Mitos-Mitos tentang Pengusaha. Bagi yang saat ini berprofesi sebagai pengusaha atau pernah menjadi pengusaha pasti tahu beberapa mitos tentang pengusaha, yang tentu saja salah atau tidak sepenuhnya benar. Umumnya banyak yang mengira bahwa untuk menjadi pengusaha dibutuhkan modal (uang) dan kesuksesannya tergantung seberapa kuat modal tersebut. Tentu saja ini tidak sepenuhnya benar.

Banyak mitos-mitos tentang pengusaha, yang tentu saja tidak sepenuhnya benar. Berikut diantaranya:

1. Jadi Pengusaha Pasti Sukses dan Kaya.

Tidak ada jaminan sama sekali bahwa jadi pengusaha pasti akan sukses. Apalagi pasti kaya.

Buktinya 80-90% usaha kolaps di tahun pertama, sementara 50% lainnya akan kolaps dalam tahun kedua hingga kelima. Sisanya juga hanya bertahan 50%-nya saja hingga tahun ke 10.

Agak mengerikan statistik ini. Tapi itulah kenyataannya. Siapapun yang bisa mempertahankan bisnisnya setelah tahun ke-10 berarti sudah cukup teruji. Dan bisa dipastikan selama 10 tahun pertama usaha tersebut banyak mengalami pasang surut yang menguras tenaga dan air mata.

Setelah berjalan di atas 10 tahun sekalipun pun tidak ada jaminan perusahaan pasti bisa aman dari bangkrut. Walaupun prosentase keberhasilannya sudah semakin besar, faktanya tidak banyak (kurang dari 50%) usaha yang bisa bertahan lebih dari 20 tahun, karena berbagai alasan.

2. Bebas Mengatur Waktu

Ini juga mitos yang belum tentu benar. Belum tentu dengan menjadi pengusaha waktu kita akan lebih longgar. Justru karena sulitnya mempertahankan usaha di tahun-tahun pertama bisa jadi waktu seorang pengusaha akan banyak dihabiskan mengurus usahanya dibanding mengurus keluarganya. Dan inilah yang sering menjadi sumber konflik dalam keluarga pengusaha.

Seringkali menjadi pengusaha berarti kita harus siap bekerja 24 jam (dikurangi beberapa jam untuk tidur secukupnya), hampir tidak ada waktu libur. Bila ada waktu luang harus digunakan untuk belajar, atau networking. Tanpa komitmen seperti itu bisa jadi usahanya tidak bisa tumbuh atau bahkan tidak bisa bertahan.

Tentu saja soal waktu ini juga masalah prioritas hidup. Misalnya saya, dari dulu saya memang bukan orang yang gila kerja, sehingga maunya ya kerja secukupnya saja. Sisanya banyak saya luangkan waku buat keluarga dan lainnya. Tapi ada beberapa teman saya yang dari dulu memang demen kerja, ya gak ada bedanya juga dia sudah kaya atau tidak, usahanya masih merintis atau sudah besar, bahkan tidak ada bedanya juga, jadi pengusaha atau tidak.

3. Lebih Mulia.

Tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah. Benar sekali. Dengan jadi pengusaha maka kita akan bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan bisa menolong orang lain karena kelebihan uang yang kita miliki.

Syaratnya satu: Usahanya harus berhasil. Kalau bangkrut, jangan-jangan malah bikin susah orang banyak. Tapi pengusaha sejati pasti tidak akan mudah menyerah, walaupun mengalami kerugian atau ditipu orang berkali-kali. Seperti kata Bob Sadino, bukan pengusaha kalau belum pernah rugi dan ditipu orang.

Sebenarnya untuk menjadi tangan di atas, tidak harus menjadi pengusaha. Pada dasarnya profesi apapun sama mulianya bila kita niatkan untuk beribadah dan memberikan kontribusi terbaik yang bisa kita berikan, sesuai dengan bakat dan minat yang kita miliki.

4. Gak Harus Punya Kompetensi

Yang penting semangat. Dan nekat. Ini juga salah kaprah. Beberapa orang menjadi pengusaha di bidang yang sekedar menjadi tren atau sekedar melihat keuntungan finansialnya, tanpa memikirkan bakat dan ketertarikan di bidang usaha tersebut.

Semua pengusaha yang sukses pasti sangat bersemangat untuk belajar dan mengembangkan kompetensi di bidang yang dia geluti. Dan selalu siap terjun ke lapangan. Pengusaha sejati adalah pembelajar sejati.

Tentu saja dia akan mempekerjakan orang-orang yang sesuai dengan bidangnya. Pada saat yang tepat. Tapi dia sendiri tidak pernah berhenti belajar dan mengembangkan diri. Biasanya dia akan sangat bersemangat di bidang usaha tersebut karena memiliki ketertarikan khusus dan/atau bakat di bidang tersebut.

Masih banyak mitos-mitos yang lain tentang pengusaha. Pada intinya jadi pengusaha bukanlah jalan yang mudah. Namun banyak orang tertantang untuk menjadi pengusaha, bukan karena menganggap jadi pengusaha itu mudah dan enak, tapi lebih karena panggilan hati (passion). Karena panggilan hati inilah yang akan menentukan kita akan bertahan pada saat menghadapi beratnya cobaan, atau menyerah di tengah jalan.

Oya ada juga sih orang yang jadi pengusaha bukan karena sengaja, tapi karena kepepet, entah karena dipecat dari tempat kerjanya, nyari kerja gak dapet-dapet, asalnya cuma kerja sampingan untuk menambah penghasilan dan lainnya. Tapi setelah diterjuni dengan serius ternyata dia baru tahu bahwa berbisnis adalah passion-nya. Dan kemudian bertahan. Dan sukses.

Oleh: AM. Sadat

Source :