Oleh: Ahmad Sadat

Asiavesta Capital adalah investment holding yang berinvestasi pada usaha kecil/menengah yang sudah mapan, memiliki bisnis yang kuat dan unik, potensi pertumbuhan dan impact yang besar, dan ingin bertransformasi menjadi korporasi dengan cara anorganik.

Kami akan menjadi strategic partner yang membantu restrukturisasi perusahaan secara holistik sehingga siap untuk menjadi korporasi menengah/besar dan/atau go public dalam waktu 2 hingga 5 tahun.

Di atas adalah misi Asiavesta Capital. Misi yang kami susun dan kami sempurnakan dalam 2 tahun terakhir. Dan yang terpenting, sudah mulai kami buktikan. Kalau belum terbukti saya juga belum tentu akan share di sini. Misi dan visi ini masih dalam proses penyempurnaan, terkait dengan proses rebranding Asiavesta Capital yang sedang kami lakukan. Bisa jadi akan ada beberapa penyesuaian, tapi secara esensi mestinya tidak ada ada perubahan signifikan.

Saya akan jelaskan artinya. Dan agar memudahkan pengertian, saya jelaskan juga contoh penerapannya di PT. IDeA Indonesia Akademi, Tbk (IDEA), perusahaan yang berkolaborasi dengan Asiavesta Capital sejak 2019, dan per September 2021 sudah menjadi perusahaan publik dengan menjual 20% sahamnya, menjadi anggota bursa ke-750, dan menjadi satu-satunya perusahaan pelatihan perhotelan dan pariwisata terintegrasi yang go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) .

Waktu yang dibutuhkan sejak awal investasi kami di IDeA sampai IPO adalah 2 tahunan (2019-2021). Sebuah pencapaian yang membanggakan, dan merupakan bukti bahwa sinergi yang benar akan membawa hasil yang dahsyat.

Asiavesta Capital adalah investment holding yang berinvestasi pada usaha kecil/menengah yang sudah mapan,…

Kami adalah investor. Bukan konsultan, atau mentor/coach, atau makelar yang dibayar berdasar jasanya. Kami akan selektif sekali berinvestasi. Karena berinvestasi artinya selain menyetorkan uang, kami juga menginvestasikan waktu, tenaga, keahlian, network dan segala yang dibutuhkan untuk membesarkan investee. Untuk itu kami siap menjadi konsultan, coach atau mentor bagi investee.

Kami hanya berinvestasi pada bisnis yang sudah berada dan stabil di Level 2 (Baca definisi Level 2 di sini: https://amsadat.blog/2021/02/03/pengusaha-kecil-pengusaha-besar/). Kami tidak berinvestasi di startup atau perusahaan yang belum stabil bisnisnya.

Saya berpengalaman membesarkan usaha dari menengah sampai besar. Ada yang saya terlibat secara langsung dalam pengelolaan bisnisnya sebagai direktur dan berjalan secara organik, ada juga yang saya hanya menjadi strategic partner dan mengembangkan secara anorganik. Yang terakhir ini lebih saya sukai, dan saya terapkan di IDeA Indonesia dan beberapa investasi kami belakangan ini.

Kami tidak akan menguasai atau mengambil alih perusahaan, karena kami adalah investment holding, bukan operating holding. Jadi founder harus tetap menjadi pemegang saham mayoritas. Kami tetap membutuhkan founder untuk menjalankan usaha setelah kami bergabung. Founder harus tetap fokus untuk menjalankan operasional perusahaan dan kami fokus untuk membenahi administrasi, legal dan keuangan. Kita bersama mengatur strategi dan pengembangan jangka menengah dan panjang.

Saat saya bertemu mas Eko di Pesta Wirausaha TDA bulan Januari 2019, IDeA Indonesia sudah menjadi lembaga pelatihan perhotelan terbaik nasional. Dia meraih juara 2 di tahun 2017 dan di 2019 meraih juara 1.

Didirikan sejak 2009, IDeA telah melalui banyak sekali fase jatuh bangun. Seperti usaha yang dimulai dari nol pada umumnya, usaha ini juga mengalami fase hidup/mati Pengusaha Level 1. Sampai akhirnya ditemukan ceruk pasar dan model bisnis yang paling cocok, sejak 2015, dan mapan sebagai Pengusaha Level 2, hingga 2019.

IDeA Indonesia adalah contoh bisnis yang sudah mapan.

Apakah mungkin kami berinvestasi di Perusahaan Level 3 atau Level 4? Sangat mungkin. Ini juga sudah kami lakukan di RelifeAsia (PT. Graha Mitra Asia), perusahaan yang kami dirikan bersama dengan Relife Property Group. Tapi kami akan sangat selektif dengan model kolaborasi seperti ini, karena akan melibatkan investasi yang besar, memakan waktu yang lama dan membutuhkan strategi yang sedikit berbeda.

… memiliki bisnis yang kuat dan unik, potensi pertumbuhan dan impact yang besar,…

Bisnis banyak. Yang bagus juga banyak. Tapi hanya ada beberapa yang cukup unik dan tidak mudah ditiru. Ada bisnis-bisnis yang entry barrier-nya rendah, artinya semua orang gampang sekali meniru, tapi ada bisnis-bisnis yang tidak mudah ditiru. Yang terakhir ini yang kami cari.

Bisa jadi karena keunikannya dia bertahan dan berkembang selama ini, dan yang terpenting, bisa jadi karena keunikannya itu akan membuat potensi pertumbuhannya masih akan sangat besar ke depannya dalam jangka panjang.

Intinya bisnis tersebut harus tetap bisa dikembangkan walaupun sudah dibesarkan nantinya. Karena ada juga bisnis yang bagus tapi tidak bisa dikembangkan menjadi korporasi, atau kalau dibesarkan, tidak bisa berkembang lagi.

Lembaga perlatihan perhotelan ada banyak. Ratusan di seluruh Indonesia. Tapi IDeA Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari kurikulumnya, caranya mendidik siswa-siswanya (pendidikan karakter ala pesantren), kedisiplinannya, yang sangat sulit ditiru oleh pesaing.

Oya satu lagi yang terpenting: Jaminan kerjanya. Semua lulusan IDeA dijamin bekerja. Bila tidak bekerja, uang kembali (syarat dan ketentuan berlaku). Kenapa bisa demikian? Salah satunya karena membludaknya peminat di IDeA. Dari 2500an pendaftar, hanya 900an yang diterima. Dengan seleksi sedemikian ketat, kurikulum dan pendidikan kepribadian dan karakter yang baik, bahkan perusahaan atau para pengguna jasa kita tidak perlu lagi repot melakukan seleksi karena sudah kita lakukan sejak awal. Dan itulah yang terjadi, mereka antri untuk mendapatkan lulusan IDeA.

Saat bertemu kami, mas Eko, founder IDeA Indonesia sedang membangun hotel. Dia mengumpulkan sedikit demi sedikit uang dari bisnisnya untuk membeli tanah dan membangun hotel impiannya. Cita-citanya adalah bisa memiliki hotel sendiri sehingga bisa melatih siswa-siswanya dengan langsung praktek di hotelnya. Cita-cita ini membuat IDeA Indonesia menjadi satu-satunya lembaga pelatihan perhotelan di Indonesia yang terintegrasi dengan Hotel sebagai Teaching Factory.

Itulah yang disebut high impact (kebermanfaatan yang besar). Bukan sekedar bisnis dan cari uang saja.

…, dan ingin bertransformasi menjadi korporasi

Ini yang paling penting: Pemiliknya ingin agar perusahaannya bisa berkembang menjadi korporasi. Tanpa ini, kita cuma akan berteman saja. Banyak teman saya pengusaha yang sebenarnya bisnisnya potensial, tapi dianya memang tidak ingin lebih besar lagi. Apakah salah? Tidak sama sekali.

Banyak pengusaha yang sudah merasa puas dengan berada di Level 2. Karena biasanya di level ini seseorang sudah cukup kaya, bahkan kaya raya.

Banyak juga yang memilih jalur berinvestasi atau membuat usaha baru. Memulai lagi dari awal, tapi kali ini dengan modal yang cukup besar. Sehingga seringkali Pengusaha Level 2 ini memiliki beberapa usaha yang tidak saling terkait.

Motivasi untuk naik ke Level berikutnya biasanya sudah bukan semata-mata kekayaan, tapi lebih dari itu. Kebermanfaatan yang berkesinambungan.

IDeA tanpa Asiavesta Capital pasti tetap akan bertahan dan tumbuh. Akan mampu membangun hotel sendiri, walaupun butuh waktu yang lama. Dan perlahan apa yang dicita-citakan akan tercapai. Karena IDeA sudah memiliki potensi itu. Tapi Mas Eko juga tahu bahwa ada cara untuk mempercepat cita-citanya. Untuk itulah dia menggandeng Asiavesta.

… dengan cara anorganik.

Dia sudah bermimpi untuk memiliki hotel sendiri yang akan menjadi teaching factory IDeA Indonesia sejak 2018, dan sejak 2019mulai mewujudkan mimpinya dengan membeli tanah, dan mulai membangun sedikit demi sedikit. Diperkirakan hotel yang menjadi impian besarnya ini akan selesai setelah 6-7 tahunan.

Namun dia tahu bahwa ada acara untuk mewujudkan visi besarnya dengan cara yang cepat. Yaitu melalui jalur anorganik. Untuk itu selama beberapa waktu terakhir dia mulai berkomunikasi dengan banyak pihak untuk menjajaki kolaborasi guna mempercepat terwujudnya mimpinya. Dengan cara anorganik, IDeA mewujudkan itu semua dalam waktu 2 tahun saja.

Pertumbuhan Organik bisa disebut Scale Up, dan Pertumbuhan Anorganik disebut Quantum Leap.

Artinya tidak dengan cara yang organik atau biasa. Anorganik artinya memacu pertumbuhan dengan melakukan peningkatan kapasitas semaksimal mungkin. Segera. Bisa melalui penambahan sarana produksi, maupun SDM dan sebagainya. Bisa jadi perlu penambahan modal, yang  bersumber dari modal sendiri ataupun pinjaman.

Cara ini – karena tidak organik – maka akan menimbulkan sedikit banyak guncangan di organisasi. Guncangannya bisa cukup besar atau tidak, tergantung kesiapan organisasinya. Bisa berupa gangguan akibat perlunya penyesuaian budaya akibat banyaknya orang yang baru bergabung, susahnya koordinasi akibat perkembangan organisasi yang cepat, ketidaksiapan SDM lama untuk menyesuaikan dengan kecepatan roda organisasi hingga turn over atau tingkat pergantian karyawan yang tinggi.

Pasa saat yang sama, kepemimpinan si owner diuji, dan diasah. Dia tidak lagi bisa memimpin dengan cara lama, karena kunci dari Level 3 adalah sistem. Sesuatu yang bisa jadi tidak diperlukan di level 2, karena biasanya sistem adalah si ownernya sendiri.

Ini juga terjadi di IDeA. Banyak sekali guncangan yang terjadi karena organisasi berkembang menjadi lebih dari 2 kali lipat dalam waktu 2 tahun. Demikian juga kapasitasnya. Tahun 2019 dan 2020 IDeA mencatatkan kenaikan sales lebih dari 100% dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Ada beberapa orang yang cocok dengan perubahan ini, ada pula yang bergururan. Turn over cukup tinggi. Beberapa orang baru bergabung, ada yang cocok, ada yang tidak cocok. Ada yang bertahan, ada yang lari dari gelanggang. Formasi dan sistem beberapa kali diganti. Beberapa gagal. Beberapa berhasil. Tapi semakin lama organisasi semakin terlatih, di mana perubahan formasi tidak akan terlalu berpengaruh ke operasional perusahaan, karena yang semua operasional berdasarkan sistem dan prosedur. Bukan tergantung orang.

(Bersambung)