Oleh: Ahmad Sadat

Saking kagetnya, saya langsung lemas saat di tengah meeting mendapat kabar bahwa pemesanan saham perdana PT. Idea Indonesia Akademi, Tbk (IDEA) mengalami kelebihan pesanan atau oversubscribe hingga 62 kali. Ini terjadi di hari terakhir masa penawaran umum.

Tepatnya terdapat pemesanan sebesar Rp.  1.246.176.218.000 (1,2 triliyun) untuk  penjatahan pooling saham yang “hanya” 20 milyar rupiah saja, sehingga terjadi kelebihan pemesanan sebesar 62,31X. Tentu saja kami hanya berhak menerima sesuai penawaran di prospektus.

Oya uang sebesar 1,2T itu riil ya (bukan daun), beneran disetor oleh calon pembeli saham perdana IDEA, sebagai syarat resmi pemesanan saham, dan akan diterima kembali oleh nasabah bila tidak mendapat jatah saham.

Sebegitu besarnya apresiasi dunia pasar modal terhadap saham IDEA sehingga terjadi pemesanan sebesar itu. And you know what? Kita gak pake strategi apapun buat jualan. Karena sebenarnya 100% saham kita baik yang melalui fixed allotment ataupun pooling sudah habis dipesan oleh stand by buyer, sebelum kita resmi melakukan penawaran umum.

Akhirnya semua rencana penjualan dan public expose kita batalkan karena barangnya sudah sold out. Dan manajemen IDEA sudah mulai fokus kerja. Kita mulai membicarakan rencana kerja ke depan, termasuk rencana kerja 2022, yang sempat sempat terganggu karena kami sibuk mempersiapkan IPO.

Bisa jadi benar seperti yang dikatakan: kebanyakan bisnis terutama UKM di Indonesia, yang jumlahnya 90% dari total semua usaha, memperebutkan 10% saja uang yang beredar. Sementara 10% korporasi menengah dan besar memperebutkan 90% total uang beredar. Salah satu buktinya ya itu, kita mau jual saham cuma 20M yang pesan 1,2T.

PT. Idea Indonesia Akademi, Tbk menjadi emiten ke 38 yang listing di tahun 2021 dan menjadi emiten ke 750 di Bursa Efek Indonesia. Memang dibanding perusahaan-perusahaan big cap yang nilainya trilyunan, valuasi kita termasuk kecil, hanya 160an milyar. Tapi, kita listing di bursa yang sama lho dengan mereka. Syarat untuk bisa listing juga sama. Dan sama-sama bisa diakses bukan hanya oleh investor dalam negeri, tapi juga semua investor di seluruh dunia.

Asiavesta Capital bertekad menjalankan misinya untuk membawa UKM-UKM investee dan mentransformasikannya menjadi korporasi, dan go public. Karena dengan demikian – walaupun masih kecil ukurannya – namun cara kerja, network dan peluang potensinya sudah sama dengan korporasi besar. Dan bisa  mengakses 90% peluang di dunia bisnis yang hanya diperebutkan 10% perusahaan di seluruh dunia.

Seperti yang selalu disampaikan oleh Bursa; Jangan menunggu besar baru go public, tapi jadilah besar karena go public.

Asiavesta Capital adalah investment holding yang berinvestasi pada usaha kecil/menengah yang sudah mapan, memiliki bisnis yang kuat dan unik, potensi pertumbuhan dan impact yang besar, dan ingin bertransformasi menjadi korporasi dengan cara anorganik.

Kami akan menjadi strategic partner yang membantu restrukturisasi perusahaan secara holistik sehingga siap untuk menjadi korporasi menengah/besar dan/atau go public dalam waktu 2 hingga 5 tahun.

Sumber :